Mukhasis Munfasil

Table of Contents

Mukhasis Munfasil

Mukhasis munfasil adalah dalil umum / makna dalil yang sama dengan dalil atau makna dalil yang mengkhususkannya, masing- masing berdiri sendiri. Yakni tidak berkumpul tetapi terisah , Mukhasis munfasil ada beberapa macam :

Ø  Kitab di- taksis dengan kitab

Contohnya finnan Allah :

Artinya :

Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ (Q.S.A1-Baqarah : 228)

Ayat tersebut, umum : tercakup juga orang hamil makea datang ayat, lain yang mengkhususkan bagi wanita hamil yang berbunyi:

Arinya :

“ ……. dan begitu perempuan-perempuan yang tidak haid. dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. (Q.S Al- Talaq: 4)

Ø  Kitab di- Takhsis dengan Sunnah Contoh firman Allah :

Artinya :

Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan (Q.S :An- Nisaa: 11)

Ayat tersebut bersifat umum, yakni mencakup anak yang kafir, kemudian dataing hadist yang mengkususkannya berbunyi:

لاَ يُرِثُ المُسْلِمُ الكاَفِرِ وَلاَ الكاَفِرِ المُسْلِمِ

Artinya :

“Tidak boleh mewarisi seseorang musulim puda seorang kafir, dan tidak boleh (juga) kafir pada muslim (HR. Bukhari)

Ø  Sunnah di-Takhsis dengan Kitab

Sebagai contoh adalah Hadits Nabi yang berbunyi :

لاتقبل الله صلا ة احدكم اذا احدث حتى يقوضأ

Artinya

“Allah tidak menerima shalat seorang diantara kamu bila masih berhadas hingga berwudhu ” (HR. Bukhari, Muslim)

Hadits tersebut adalah Umum, yakni termasuk dalam keadaan tidak dapat memperoleh air, kemudian dikhususkan oleh ayat yang berbunyi :

وا كنتم مرض او على سفر او جا ء احد منكم من الغا ئط او لمستم النساء فلم تجدوا ماء فيتمموا صعيدا طيبا

Artinya :

“Dan jika kamu sakit/sedang dalam musafir/datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air maka bertayamumlah kamu dengan tanah bersih …. “

Ø  Sunnah di-Takhsis dengan Sunnah

Sebagai contoh adalah Hadits Nabi yang berbunyi :

فيا سقت السماء العشر (رواه بخارى و مسلم)

Artinya:

“Tanaman yang dengan siraman hujan, (zakatnya) adalah seper sepuluh (l0%)” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut di-Takhsis dengan hadits yang berbunyi :

ليس فيا دون خمسة اوسق صدقة

Artinya :

“Tidak wajib zakat (tanaman) yang kurang lima wasaq” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ø  Men- Takhis dengan Qiyas

لي الوجد يحل عرضه وعقوبته

Artinya :

“Menunda-nunda pembayaran bagi orang yang mampu, halal dilanggar kehormatannya dan boleh dihukum” (HR. Ahmad)

Hadist tersebut ialah umum, yakni siapa saja yang menunda-nunda pembayaran hutang, padahal ia mampu untuk membayar, termasuk ibu atau bapak. Kemudian dikhususkan, yakni bukan termasuk ibid dan bapak dengan jalan meng-Qiyas firman Allah yang berbunyi :

* Ÿxsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é&  ÇËÌÈ

Artinya :

Janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” (Qs Al-Isra:23)

Tidak boleh memukul melanggar kehormatan kedua orang tua adalah hasil Qiyas dari larangan mencakup “ah” terhadap-Nya. Karena memukul atau melanggar kehormatan, lebih tinggi kadar menyakitkannya dari pada mengucap “ah”. Qiyas yang demikian dinamakan Qiyas Qulawi. Sebagian ulama berpandangan bahwa yang demkian bukan dinamakan Qiyas Qulawi, tetapi diaebut Mafhum Muwafaqah.

Sumber: https://multiply.co.id/