Miliaran virus jatuh ke Bumi setiap hari

Miliaran virus jatuh ke Bumi setiap hari

Miliaran virus jatuh ke Bumi setiap hari

Jutaan virus di udara melayang-layang di sekitar Anda setiap hari dan miliaran mikroba menyebar ke mana pun di Planet Bumi ini setelah menjelajah udara di seluruh dunia.

Untuk pertama kalinya, para ilmuwan menganalisis jumlah sangat besar virus yang tersapu

dan teraduk di atmosfer yang kadang-kadang menempuh perjalanan ribuan kilometer dari titik asal virus sebelum kembali terlihat di permukaan Bumi.

Untuk mengetahui hal ini, para peneliti mengamati lapisan batas atmosfer, yakni troposfer bebas yang berada di bawah stratosfer namun masih cukup tinggi dari jangkauan sistem cuaca.

Pada ketinggian ini, sekitar 2.500 sampai dengan 3.000 meter di atas permukaan laut, virus-virus bergerak menunggangi arus udara dan partikel-partikel tanah atau uap dari semburan laut, bergerak amat sangat jauh.

Para ilmuwan yang menemukan banjir mikroba di udara, menyimpulkan bahwa setiap satu

meter per segi permukaan Bumi bisa disiram oleh ratusan juta virus dan puluhan juta mikroba, dalam satu hari saja.

“Setiap hari, sekitar 800 juta virus menghuni setiap meter per segi di atas lapisan batas atmosfer atau 25 virus untuk setiap satu orang di Kanada,” kata salah seorang penelitinya, Curtis Suttle, yang merupakan virolog dan profesor pada Institut Kelautan dan Perikanan Universitas British Columbia.

Baca juga: Virus flu melanda Yunani, lima orang meninggal

Tetapi banjir virus ini tak ada kaitannya dengan penyebab flu. Virus-virus –yakni kluster-kluster material genetis dalam protein pembungkus yang tak bisa mereproduksi sendiri– sudah ada di Bumi sejak 300 juta tahun lalu dan berlimpah ruah di Bumi (termasuk dalam tubuh manusia sebagai bagian dari mikrobioma).

Kenyataannya, virus adalah mikroba yang paling banyak di Bumi, simpul penelitian ini.

Jumlah virus itu sangat mengerikan yang seandainya semua virus di Bumi dikumpulkan maka akan menempati wilayah yang merentang sampai 100 juta tahun cahaya, tulis jurnal Nature Reviews Microbiology pada 2011.

 

sumber :

https://mhs.blog.ui.ac.id/abd.jalil/whatsapp-mod/