Natal : Jika bayi Yesus diaborsi

Natal Jika bayi Yesus diaborsi

Natal : Jika bayi Yesus diaborsi

Natal Jika bayi Yesus diaborsi
Natal Jika bayi Yesus diaborsi

Melanjutkan pertanyaan retorik yang kuajukan beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 2005, “Apa yang terjadi jika Yesus diaborsi ?”, tahun ini kembali aku menanyakan hal yang sama. Aku rasa jika Yesus diaborsi oleh Maria dan Yusuf, maka Natal tidak lagi menjadi sebuah tradisi agama yang dirayakan, atau bisa jadi Yesus tidaklah menjadi tokoh yang begitu populer. Tidak ada yang mengenal cerita kelahiran Yesus, dan juga tidak ada perayaan kelahiran Yesus. Mungkin juga tidak akan ada yang mengenal Yesus seperti yang kita kenal hari ini.

Menyusuri kota Stuttgart yang dingin di bulan Desember, mengingatkanku pada nuansa Natal yang selalu berkonotasi dengan “salju”. Jika anda menanyakan kepada masyarakat Jerman untuk menyebutkan beberapa hal yang berkaitan dangan Natal maka sederetan ide ini akan muncul; “festifal”, “santa claus”, “baking cake”, “hadiah Natal”, “advent”, dsb.

Natal di negara dunia pertama identik dengan industri. Dua minggu sebelum Natal industri sudah mempersiapkan diri. Natal di Jerman dirayakan sangat luar biasa. Contoh kecil, Konigstrasse, kawasan shopping seperti Orchard road di Stuttgart, sudah mempersiapkan wajahnya untuk Natal. Tepat di dekat Schlossplatz dibangun sebuah ring ice skating yang dari tahun ke tahun menyedot pengunjung terbanyak. Sebelumnya semua toko dan swalayan sudah mensortir barang-barang jualannya untuk hadiah Natal. Hadiah Natal ditawarkan dimana-mana.

Salah satu icon perayaan natal secar besar-besaran yang ada di Jerman adalah “weihnachtsmarkt”, pasar Natal. Pasar natal ini menjual segala snick dan snack nuansa Natal, hadiah, bahkan apapun yang bisa menghidupkan nuansa Natal. Banyak kios kios yang menjual makanan dan minuman khas Natal, dari teh aroma Natal, gluhwein, honigwein dan berbagai macam bratwurst dapat anda nikmati. Tiap kios akan dihiasi dengan hiasan Natal dan harganya berlipat-lipat lebih mahal dari harga normal. Tapi setiap pasar Natal selalu ramai pengunjung dan tidak pernah sepi dari omzet.

Jika Natal identik dengan omset besar, banyak hadiah, kehadiran Santa Klaus, lalu dimana letak kelahiran Yesus, yang seharusnya kita imani ? Statistik yang mencengankan yaitu pengunjung pasar Natal lebih banyak daripada pengunjung gereja sekalipun itu adalah minggu-minggu Advent. Artinya, Natal hanya sederetan even yang tidak jauh beda dengan “tradisi” atau sekedar “festifal”, tidak lebih dari itu.

Berkaitan dengan pertanyaan “apa yang terjadi jika Yesus diaborsi ?”, aku lebih lega hidup hari ini jika Maria atau Yusuf mengaborsi Yesus. Menurutku, lebih baik jika Natal tidak ada daripada Natal itu eksis. Semakin aku menjejakkan kakiku jauh dari negaraku, semakin aku menyadari apa Natal bagi umat Kristiani. Semakin juga aku mengerti bagaimana Natal telah beralih arti dan fungsi. Dari kemewahan Illahi “terpelintir” menjadi kemewahan industri.

Natal seharusnya hadir dengan iman, natal seharusnya hadir untuk mengagungkan Cinta. Natal dengan segala hingar bingarnya, diskon harga dimana-mana bukan juga jawaban akan iman yang kita nanti-nantikan.

Minggu ini telah memasuki minggu advent ketiga, semua toko telah memberikan harga diskon spesial 50 % untuk semua artikel Natalnya. Kembali aku menanyakan pertanyaan retorik itu, “Apa yang terjadi jika Yesus diaborsi ?”, apakah setiap orang akan merenungkan Cinta, Sang Pencipta ? Tentu tidak semudah itu. Kenyataan historisnya, Yesus tidak diaborsi tetapi dia dilahirkan di kandang yang hina di Betlehem. Demikian juga dengan apa yang sudah hina itu masih tetap disalib ketika dia beranjak dewasa. Aku rasa jawabannya, natal hanyalah salah satu event dalam kehidupan beragama. Manusia tidak hanya menyalibkan Natal, tapi sepertinya segalanya sudah mereka “plintir” menjadi apapun yang mereka suka karena iman sudah tak mereka miliki. Tentunya, hal ini hanya kembali pada tiap pribadi. Selamat Natal

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/fb-ads-vs-ig-ads/