Et cetera, et cetera, et cetera King” dan Hofstede

Et cetera, et cetera, et cetera King” dan Hofstede

Et cetera, et cetera, et cetera King” dan Hofstede

Et cetera, et cetera, et cetera King” dan Hofstede
Et cetera, et cetera, et cetera King” dan Hofstede

Ghandi mengingatkan kita pada apa yang disebut etnosentrisme, yang aku rasa tiap orang punya etnosentrisme hanya saja kadarnya berbeda. Teman sekelasku contohnya, perempuan Iran, umur 30 tahun, baru saja melangkah keluar dari dunia Asia kecilnya pertama kali ketika dia berumur 30 tahun karena dia memutuskan untuk menikahi pria Jerman. Pengetahuan yang dimiliki hanyalah apa yang “diabsorb” selama 30 tahun hidup di Iran, tentunya berat baginya untuk mengkolaborasikan dirinya dengan kultur budaya Barat. Kemarin kami sedang membicarakan tentang kebiasaan merokok, dan kami menanyakan jika dia juga merokok, jawabnya “no..no..no, in Iran women can not smoke yaaa…..”. Dia menjelaskan panjang lebar tentang mengapa perempuan tidak boleh merokok, karena alasan agama (pendeknya). Di kali kesempatan yang lain, kami terlibat lagi dalam sebuah diskusi, kali ini tentang tradisi berpakaian, dengan semangat luar biasa dia menjelaskan dengan cara yang berapi-api, ”in Iran….women must use Jilbab, it is a must yaaa…. And we have to wear it even in our photos yaaaa”. Segala penjelasannya selalu dimulai dengan “in Iran…” ini yang aku amati dari gaya berbicaranya. Juga dia mempunyai gaya khas bicara dengan nada penutup yang menggantung terbuka, mungkin semua orang di kelas kami sudah bisa menirukan caranya berbicara. Satu konklusi, yang kami buat yaitu dia sangat bangga dengan kulturnya. Ghandi mengatakan bahwa keinginan untuk ”being cross culture” sangatlah susah, inginnya kita membuka semua pintu yang menutup jalan untuk memahami kultur yang lain, tapi apa yang terjadi ? Kadang kala kita menolak untuk berdiri di sisi yang lain. Karena alasan ketidaknyamanan kultur !

Berbicara tentang ketidaknyamanan, aku ingin memulai dari cerita soal film yang baru saja selesai aku tonton. Judulnya, ”the King and I” buatan tahun 1956, bahkan aku sendiri belum lahir saat itu. Film ini direcycle ulang di tahun 1999, dibuat dengan ending yang lebih menggembirakan. ”The King and I” bercerita tentang Mrs Anna Leonowens dan anaknya Louis yang tiba di Bangkok, tempat dimana Anna dikontrak untuk mengajar Inggris bagi anak-anak kerajaan. Ia mengancam untuk meninggalkan ketika rumah yang telah dijanjikan tidak tersedia, namun apa daya dia mulai jatuh cinta dengan anak-anak. Seorang budak, Tuptim, dihadiahkan kepada raja Siam. Budak yang diangkat menjadi selir raja tidak bahagia tentunya karena dia tidak cinta raja, ada pria lain dihatinya yang sudah lebih dulu dia cintai. Ia menterjemahkan ”Uncles Tom’s Cabin” dalam sebuah karya balet, untuk mengekspresikan ketidakbahagiannya.Ia mencoba melarikan diri dengan pria yang dia cintai, namun tidak berhasil. Anna dan raja saling jatuh cinta, namun keangkuhan dua budaya itu mendinginkan situasi sampai akhirnya raja jatuh sakit. Anna akan meninggalkan Sian ketika ia mendengar bahwa raja akan meninggal, akhirnya ia memutuskan untuk kembali membantu pangeran, memimpin rakyat.

Film yang menyenangkan ini dari pertama sudah dibumbui dengan tarik ulur antara budaya barat dan budaya timur. Anna Leonowens adalah representasi kental dari budaya barat. Sementara, raja siam dan segenap penghuni istana adalah representasi kental dari budaya timur. Apa jadinya ketika dua budaya yang bertolak belakang ini bertemu ? Kali ini mungkin aku tidak akan membahas siapa yang menang dan siapa yang kalah, atau siapa yang lebih baik atau lebih unggul, tapi aku mencoba melihat dari kerangka Hofstede.

Power Distance
Menurut Hofstede, ”power distance” adalah suatu tingkat respect atau penerimaan dari suatu power yang tidak seimbang antara orang. Budaya dimana terdapat suatu kenyamanan dengan adanya power distance yang tinggi adalah dimana ketika beberapa orang dianggap lebih superior dibandingkan dengan yang lain karena status social, gender, ras, umur, pendidikan, kelahiran, pencapaian, latar belakang atau faktor lainnya. Sementara itu budaya dengan power distance yang rendah cenderung untuk mengasumsikan persamaan di antara orang dan lebih focus kepada status yang dicapai daripada yang disandang oleh seseorang.

Siam, salah satu negara Asia, tergolong sebagai negara yan g memiliki power distance yang tinggi, masyarakat menerima hubungan kekuasaan yang lebih autokratik dan patrenalistik. Bawahan mengenal kekuasaan orang lain melalui formalitas, misalnya posisi hierarki. Di Siam, raja adalah pemegang kekuasaan tertinggi, setiap orang akan melakukan apa yang dikatakan oleh raja terlepas dari baik atau buruknya. Salah satu dialog raja kepada Anna, ” When I sit, you sit. When I kneel, you kneel. Et cetera, et cetera, et cetera!” menunjukkan bahwa akulah raja dan Anna sebagai bawahan harus mengerti jelas bahwa ia harus mengikuti segala hal yang diperintah raja, termasuk seorang bawahan tidak boleh meletakkan kepalanya lebih tinggi daripada raja. Ia harus lebih rendah daripada raja karena secara hirarki tidak ada yang lebih tinggi dari pada raja Siam.

Hofstede mendefinisikan bukan pada perbedaan obyektif dalam mendistribusikan kekuasaan tetapi lebih pada bagaimana masyarakat melihat perbedaan kekuasaan. Bedanya dengan budaya eropa misalnya, masyarakat menerima hubungan kekuasaan lebih demokrat dan konsultatif, masyarakat menghubungkan satu dan yang lainnya kurang lebih setara dan tidak melihat posisi fomal. Bawahan merasa nyaman ketika menyampaikan permintaannya atau mengkontribusikan kritiknya pada mereka yang mempunyai kekuasaan lebih. Pembagian otoritas dan hak untuk menggunakan kekuatan dalam situasi tertentu saja.

Individualisme vs. Kolektivisme
Indivuidualisme adalah lawan dari kolektivisme, yaitu tingkat dimana individu terintegrasi ke dalam kelompok. Dari sisi individualis kita melihat bahwa terdapat ikatan yang longgar di antara individu. Setiap orang diharapkan untuk mengurus dirinya masing-masing dan keluarga terdekatnya. Sementara itu dari sisi kolektivis, kita melihat bahwa sejak lahir orang sudah terintegrasi ke dalam suatu kelompok. Bahkan seringkali keluarga besar juga turut terlibat dalam merawat.

Anna Leolowens dan budayanya merepresentasikan nilai individualisme. Orang menekankan pada pencapaian pribadi dan hak individual. Dalam budayanya diharapkan bahwa masing-masing orang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Kerjasama penting, namun setiap orang berhak memiliki opini masing-masing. Anna dalam berbagai kesempatan selalu mengungkapkan opininya secara langsung. Salah satu bagian yang menjadi favorit adalah scene ketika Anna Leonowens berdebat dengan raja Siam.

Baca Juga :