NOSTALGIA MASA REMAJA LEWAT NONTON BARENG FILM “BEBAS”

NOSTALGIA MASA REMAJA LEWAT NONTON BARENG FILM “BEBAS”

NOSTALGIA MASA REMAJA LEWAT NONTON BARENG FILM “BEBAS”

NOSTALGIA MASA REMAJA LEWAT NONTON BARENG FILM “BEBAS”
NOSTALGIA MASA REMAJA LEWAT NONTON BARENG FILM “BEBAS”

Jakarta, 16 Oktober 2019 – Bebas, kata yang mengandung makna sangat luas, namun kali ini yang akan dibahas adalah Nobar film berjudul “Bebas” bersama Menristekdikti, Mohamad Nasir di Studio 2 XXI Plaza Senayan Jakarta.. Nonton bareng Menristekdikti ini berhasil diadakan berkat kerjasama Pusbang Film dan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan. Selain dari Kemenristekdikti, pada hari dan jam yang sama, Kemdikbud juga menggelar nonton bareng film “Bebas” di teater 4. Pada kegiatan nobar ini, Menristekdikti hadir sebagai tamu undangan beserta para pejabat struktural eselon I. Hadir pula sutradara dan produser film “bebas:” yaitu Riri Riza dan Mira Lesmana.

Menristekdikti bersama Riri Riza dan Mira Lesmana

“Bebas” adalah remake dari Film Korea berjudul “Sunny” yang tayang pada Tahun 2011. Film ini mengisahkan tentang persahabatan enam orang yang dimulai pada masa SMA beserta lika-liku kehidupan masa remajanya. Film ini juga dibumbui dengan kisah cinta remaja, gejolak dara muda yang mudah terbawa emosi, dan juga tentang impian masa muda. Sebelum film dimulai, para penonton mulai tamu undangan dari Kemenristekdikti maupun mahasiswa yang sudah ramai di lobby bioskop bergantian berfoto ataupun sekedar berbincang bersama Riri Riza.

Durasi waktu kurang lebih dua jam tidak terasa, karena penonton terbawa alur ceritanya. Tawa berkali-kali terdengar di dalam gedung kala adegan lucu dan ‘kocak’ muncul diantara enam sekawan itu. Nostalgia dirasakan para penonton ketika menonton film ini karena para penonton di bawa kembali pada masa tahun 1995. Penonton yang mayoritas mahasiswa mungkin tidak terlalu ingat masa-masa

tahun 1990an, namun bagi Menristekdikti dan jajarannya serta tamu undangan

lain film ini membuat mereka kembali mengingat masa-masa muda mereka. “Nah ini kalo saya hanya mengingat masa lalu, waktu saya SMA dulu. Saya SMA Tahun 1979, berarti 40 tahun saya tamat SMA. Sampai sekarang teman-teman SMA masih kumpul juga. Mengingatkan saya masa SMA kumpul-kumpul. Ya ternyata hidup di masa SMA orang kerjanya di beda-beda juga, tapi tetap berteman, bersahabat. Waktu kuliah pun begitu masih bersahabat sampai sekarang.” Pendapat Bapak

Mohamad Nasir. ”Artinya film itu mengispirasi orang lain tentang pentingnya

suatu persahabatan. Walaupun namanya genk bebas, tapi persahabatan itulah yang menjadi penentu.” tambah beliau. Menristekdikti juga mengingatkan kita untuk tahu makna bebas yang sebenarnya, bebas bukan berarti beda segala-galanya. Bebas tapi harus kita melihat kebebasan orang juga. Nah itulah demokrasi namanya. Begitulah ungkap beliau.

 

Sumber :

https://education.microsoft.com/Story/CommunityTopic?token=Ue57v