Rencana Penghapusan Materi Perang dalam Buku Sejarah Islam Oleh Kemenag

Rencana Penghapusan Materi Perang dalam Buku Sejarah Islam Oleh Kemenang

Rencana Kementerian Agama (Kemenag) menghapus materi mengenai perang dalam materi latihan Sejarah Kebudayaan Islam untuk destinasi mendidik murid menjadi toleran terhadap pengikut agama beda dinilai salah sasaran.

Kasus intoleransi seperti perbuatan bom bunuh diri dinilai tidak berhubungan dengan materi doktrin tersebut. “Ini merupakan kepandaian menyimpang dan nyeleneh yang dihantui oleh pemikiran takut Islam, meskipun pembuat kebijakan tersebut seorang muslim,” kata peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSIST) Henri Salahuddin dalam keterangan.

Pernyataan Henri menyikapi informasi yang beredar di media mengenai rencana rencana Direktur Kurikulum Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama, ahmad Umar yang mengaku akan menghapus pelajaran perang dalam materi latihan Sejarah Kebudayaan Islam. Langkah tersebut dilakukan supaya Islam tidak lagi dirasakan sebagai agama yang tidak jarang kali dikaitkan dengan perang.

Berdasarkan keterangan dari Henri, timbulnya kebijakan tersebut seakan-akan dipercayai jika masing-masing siswa akan mengetahui peperangan yang pernah dijalankan oleh Rasulullah tentu akan anarkis, intoleran dan beraksi brutal untuk penganut agama lain.

“Orang yang beranggapan seperti ini dikhawatirkan sedang merasakan gangguan delusi. Orang yang merasakan delusi seringkali mempercayai hal-hal yang tidak nyata atau tidak cocok dengan suasana sebenarnya,” katanya.

Dia berasumsi jihad fi sabilillah yang mencakup segala format jihad tergolong perang ialah puncak tertinggi dari doktrin Islam (dzirwatu sanamihi) sebagaimana dilafalkan dalam hadits Mu’adz bin Jabal. Perang ialah bagian dari keniscayaan yang tidak jarang kali berulang di sepanjang sejarah, di masing-masing zaman dan tempat.

Oleh karena itu, kata dia, Islam menata bagaimana berihsan dalam perang, seandainya peperangan tersebut harus dilakukan. Paling tidak sebelum mengerjakan jihad qital (perang), terdapat dua langkah yang mesti dilalui, yaitu jihad tarbawi dan jihad tanzimi.

Jihad tarbawi ialah menyiapkan pengetahuan yang utuh ttg bab keluasan bab jihad, kriteria dan rukunnya. Sementara jihad tanzimi ialah menanamkan bahwa perang tersebut bukan pekerjaan liar dan mesti diorganisasi oleh pengambil keputusan badan eksekutif tertinggi (negara).

Berdasarkan keterangan dari dia, perang bukan keharusan yang ditetapkan oleh pribadi atau kelompok-kelompok masyarakat (milisi). Seorang muslim mesti mengenal pondasi doktrin jihad, tergolong yang paling fundamental bahwa perang dalam Islam tersebut sifat dasarnya defensif, bi annahum zulimu (karena dizalimi dan disiksa (QS al-Hajj: 39).

“Dalam situasi perang, masing-masing muslim diajarkan tindakan apa saja yang mesti dihindari saat berperang. Misalnya larangan merusak lokasi ibadah, merusak lingkungan, membunuhi hewan ternak, menebangi tanaman, membunuh musuh yang menyerah, menyiksa, dan segala format yang tidak beradab,” katanya.

Namun demikian, kata Henri, perlu pun ditelaah ulang materi pertempuran dalam kitab Sejarah Kebudayaan Islam. Tidak tidak banyak terjadi pembiasan dalam pelajaran ajar mengenai sejarah Islam yang melulu merujuk pada pengarang orientalis yang tidak beriktikad baik terhadap penggambaran sejarah Islam.

“Sehingga mengesankan bahwa sejarah pertumbuhan Islam diisi dengan perang dan aksi-aksi brutalisme. Tetapi biar tujuan kepandaian kemenag ini dapat mendapatkan hasil maksimal, bakal lebih baik andai diusulkan ke Amerika Serikat dan negara-negara yang mempunyai perkiraan perang dan pekerjaan militer yang tinggi. Misalnya, Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Arab Saudi, Prancis, dan Britania Raya,” katanya.

Sumber : http://www.levny-hosting.cz/prekroceni-systemovych-zdroju?url=www.pelajaran.co.id