Keluarga Pemegang Kunci Ka’bah

Keluarga Pemegang Kunci Ka’bah

Kemenangan gemilang diraih umat Islam pada momen Fathu Mekah. Kaum musyrikin Quraisy yang angkuh dan sombong cuma tertunduk cemas dan takluk di hadapan kaum muslimin yang dahulu mereka tindas. Sungguh karunia Allah SWT yang sangat besar yang diberikan kepada umat Islam supaya kaum muslimin mampu melenggang penuh kehormatan memasuki kota Mekah, kampung halaman yang begitu mereka rindukan.

Pengorbanan harta dan jiwa, rasa sakit tersayat-sayat, serta sedih dan pilu yang mereka rasakan pas memperjuangkan kebenaran terobati telah dengan memandang kemenangan yang nyata ini.

Salah satu tugas yang harus dilaksanakan Rasulullah saw dan kaum muslimin di Mekah adalah bersihkan Ka’bah, tempat tinggal Allah, dari sesembahan kaum musyrikin Ouraisy. Setelah beliau lakukan thawaf dan beristirahat sejenak, beliau memanggil Bilal r.a dan menyuruhnya untuk meminjam kunci Ka’bah dari keluarga Utsman bin Thalhah.

Kunci Ka’bah memang dipercayakan kepada keluarga Utsman bin Thalhah secara turun-menurun meskipun mereka masih memegang ajaran agama jahiliah.

Bilal r.a langsung menyampaikan permohonan Rasulullah saw kepada Utsman bin Thalhah di kediamannya. Namun, ibunda Utsman menampik beri tambahan kunci Ka’bah selanjutnya seraya berbicara kepada putranya, “Wahai anakku, keluarga kami mendapat kehormatan untuk memegang kunci Ka’bah ini dari dulu. Jika kau berikan kunci ini kepada mereka, bakal berakhirlah kehormatan keluarga kita!”

Utsman paham kecemasan ibunya. Namun, dengan kebolehan pasukan Islam pas ini, sia-sia menahan kunci selanjutnya karena kaum muslimin bakal memintanya dengan paksa. Dan kemungkinan kunci selanjutnya bakal diamanahkan kepada keliru seorang dari kaum muslimin. Oleh karena itu, Utsman menenangkan ibunya supaya merelakan kunci Ka’bah dibawa oleh kaum muslimin.

Setelah pintu Ka’bah terbuka, Rasulullah saw dan para teman akrab langsung menghancurkan ratusan berhala di dalamnya. Begitu pula, lukisan-lukisan para Nabiyullah terdahulu yang menggambarkan adegan sesat dan dikarang oleh orang-orang jahiliah dilucuti dari dinding Ka’bah dan dibuang keluar.

Setelah Ka’bah bersih dari segala benda yang mengandung kesyirikan dan kejahiliahan, beliau lakukan shalat dua rakaat di dalamnya. Kemudian beliau nampak dan menyerahkan kunci Ka’bah selanjutnya ulang kepada Utsman.

Tentu saja Utsman heran sekaligus kaget, ternyata Rasulullah saw selamanya memercayakan perawatan Ka’bah di tangan keluarganya, yakni Bani Syaibah yang nonmuslim.

Sumber : situs bahasa inggris gratis

Baca Juga :