Peduli Anak, Polisi Sultra Raih Frans Seda Award 2018

Peduli Anak, Polisi Sultra Raih Frans Seda Award 2018

Peduli Anak, Polisi Sultra Raih Frans Seda Award 2018

Peduli Anak, Polisi Sultra Raih Frans Seda Award 2018
Peduli Anak, Polisi Sultra Raih Frans Seda Award 2018

Sebagai upaya melestarikan nilai-nilai hidup Frans Seda sebagai negarawan Indonesia sekaligus pendiri Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya, Frans Seda Award (FSA) kembali diberikan kepada insan muda Tanah Air yang mendedikasikan dirinya bagi aktivitas pendidikan dan atau kemanusiaan. Tahun ini, dua pemenangnya berasal dari Sulawesi Tenggara dan Sumatera Utara. Acara penganugerahannya digelar di kampus Unika Atma Jaya pada Jumat (26/10).

Untuk Kategori Pendidikan pemenangnya adalah Brigadir Polisi Muhamad Saleh dari Bombana, Sulawesi Tenggara yang merupakan pendiri Sekolah Swasta Anak Soleh. Sedangkan Kategori Kemanusiaan diraih Edi Syahputra dari Langkat, Sumatera Utara pendiri Sanggar Tratama.

Brigadir Polisi Muhammad Saleh mengatakan, sekolah tersebut dibangun karena ia melihat anak-anak kecil di desanya harus berjalan lima hingga delapan kilometer setiap pagi ke sekolah di desa tetangga.

“Setiap pagi, untuk ke sekolah anak-anak harus melewati pematang sawah, dan jalan poros yang kerap membahayakan nyawa mereka. Akhirnya saya ajukan ke kepala desa untuk membuat sekolah sendiri,” kata Soleh dalam siaran pers yang diterima SP, Sabtu (27/10) pagi.

Ia menuturkan, Sekolah Anak Soleh tersebut mendapat dukungan dari pemerintah desa (pemda) sehingga berhasil dibangun. Pada awalnya, sekolah tersebut hanya menggunakan kolong rumah kepala desa sebagai ruang kelasnya. Namun saat ini, berkat sumbangan dari warga dan bantuan pemda, sekolah tersebut telah memiliki tiga kelas untuk empat tingkat. “Jadi kalau kelas satu sudah selesai sekolah, giliran kelas dua yang memakai kelasnya,” tutur Soleh.

Atas jasanya tersebut, sekolah rintisan Soleh diberi nama Sekolah Anak Soleh. Hal itu semata-mata atas keinginan masyarakat setempat. “Kepala desa bilang, untuk mengenang jasa saya kalau saya sudah tidak bertugas di sini lagi. Saya iyakan saja,” ujarnya.

Cerita berbeda disajikan oleh Edi, pendiri Sanggar Tratama di Sumut. Edi membangun sanggar dengan tujuan menjauhkan generasi muda di Langkat dari hiburan yang tidak mendidik, narkoba dan gim daring (game online).

”Hadirnya Sanggar Tratama ini bertujuan untuk menjauhkan generasi muda di desa dari hiburan yang tidak jelas, narkoba, dan game online. Perlahan-lahan terwujud dengan menciptakan generasi CIS (Creative Innovative Sinergy) melalui Sanggar Tratama saya dirikan,”ujarnya.

Ia menuturkan, Sanggar Tratama mengajarkan Seni Tari dan Musik,

pengembangan kapasitas pemuda, kelas inspirasi terbuka dan kewirausahaan, memberikan edukasi dan pola berpikir kreatif anak-anak desa untuk menempuh pendidikan yang lebih baik, menjadi generasi produktif bukan konsumtif serta menuju peradaban yang lebih baik.

Rektor Unika Atma Jaya, Prasetyantoko, mengatakan, tahun ini para nominator FSA 2018 berasal dari sembilan provinsi dan 10 kota dengan penghargaan dibagi menjadi dua kategori yaitu bidang pendidikan dan kemanusiaan. Para pemenang dari masing-masing kategori mendapatkan sertifikat, medali, dan uang tunai senilai Rp 50 juta.

“Frans Seda Award adalah upaya komunitas Atma Jaya untuk mempertahankan, menjaga, dan merawat semangat para pendiri Atma Jaya. Salah satunya ditunjukkan dengan memberikan penghargaan bagi orang-orang yang punya visi dan semangat yang sama dengan para pendiri.” kata Prasetyantoko.

Ia menambahkan, penghargaan tersebut sengaja diberikan kepada orang-orang

yang tak dikenal, namun memiliki kontribusi tinggi terhadap masalah kebangsaan. Selain itu, penghargaan ini merupakan komitmen perguruan tinggi untuk membantu menyelesaikan persoalan kemanusiaan dan pendidikan yang ada di Tanah Air. “Kami harap mahasiswa bisa melihat dan belajar langsung dari kedua sosok yang punya kepekaan pada masalah sosial dan pendidikan ini,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Atma Jaya, Aswin Wirjadi mengatakan, nilai untuk

Tuhan dan Tanah Air merupakan nilai inti dari para pendiri Atma Jaya yang dibawa hingga saat ini. “Ajang Frans Seda Award merupakan bentuk untuk memberikan penghargaan bagai masyarakat Indonesia yang telah berkontribusi aktif bagi bangsa dan sejalan dengan nilai Frans Seda, pendiri universitas kami.” ujarnya.

 

Sumber :

https://daftarpaket.co.id/