Tak Punya Biaya, 3 Siswa MAN 2 Padang Nyaris Batal Kuliah di PTN

Tak Punya Biaya, 3 Siswa MAN 2 Padang Nyaris Batal Kuliah di PTN

Tak Punya Biaya, 3 Siswa MAN 2 Padang Nyaris Batal Kuliah di PTN

Tak Punya Biaya, 3 Siswa MAN 2 Padang Nyaris Batal Kuliah di PTN
Tak Punya Biaya, 3 Siswa MAN 2 Padang Nyaris Batal Kuliah di PTN

Bagi sebagian masyarakat di daerah, Pulau Jawa masih menjadi tujuan tempat menimba ilmu. Di atas kertas lulusan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun swasta di Pulau Jawa memang lebih baik.

Ada sederetan PTN yang menjadi favorit bagi lulusan SMA dan sederajat. Mulai dari Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan sederet perguruan tinggi lainnya.

Tak ayal lulusan SMA sederajat memiliki motivasi besar agar bisa melanjutkan sekolahnya ke tanah Jawa. Untuk mendapatkan semua itu, orang tua murid mati-matian memperjuangan pendidikan anaknya. Mereka rela berkorban harta, bahkan nyawa sekali pun.
Tak Punya Biaya, 3 Siswa MAN 2 Padang Nyaris Batal Kuliah di PTN
Tiga siswa MAN 2 Padang menerima bantuan beasiwa alumni MAN 2 Padang (Riki Chandra/JawaPos.com)

Melihat perjuangan orang tuanya, Azed Alfara, 18, bertekad untuk melanjutkan pendidikan ke PTN ternama selepas tamat dari MAN 2 Padang. Alhasil ketika mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan tinggi negeri (SBMPTN) 2018 lalu dia berhasil diterima di Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor (IPB).

“Sejak awal saya memang mimpinya jadi dokter hewan. Alhamdulillah saya lulus,” kata Azed Alfara menerima bantuan beasiswa di MAN 2 Padang, Senin siang (23/7). Adapun beasiswa itu merupakan bantuan pendidikan dari alumni MAN 2 Padang angkatan 2003.

Azed Alfara bercerita, untuk sampai ke kampus yang dicita-citakan itu harus melewati perjuangan cukup berat selama bersekolah di MAN 2 Padang. Pasalnya, orang tua dia tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk memberikannya ruang kursus di luar jam sekolah.

Penghasilan ayahnya yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan dan ibu yang seorang IRT hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Agar tangkapan ayah cukup baik, tak jarang Azed ikut membantu ayahnya melaut. Biasanya itu dilakoni sepulang sekolah.

Nah, ketika mengikuti SBMPTN dia memang sengaja memilih jurusan kedokteran hewan. Lantas pada pengumuman, namanya menjadi salah satu calon mahasiswa yang diterima di IPB.

Namun ketika dinyatakan lulus, Azed menghadapi kebingungan. Karena, orang tuanya tidak memiliki uang untuk biayanya. “Pokoknya tidak bisa membayangkan bisa berangkat. Untuk hidup saja susah, apalagi buat ongkos pesawat ke sana,” sambungnya.

Remaja jangkung berkulit sawo matang itu merinci, untuk berangkat kuliah ke IPB harus menyiapkan biaya tinggal di asrama Rp 1,2 juta selama setahun. Belum lagi biaya hidup dan uang masuk ke dalam kampus.

Azed dan keluarga berusaha mencari bantuan. Alhasil mendapat bantuan dari sekolah, sumbangan ,dan Bazda. “Semoga dengan bantuan ini saya bisa capat tamat dan mendapatkan IP tinggi. Lebih dari itu bisa bekerja di tempat yang layak,” kata Azed yang selalu masuk lima besar selama bersekolah di MAN 2 Padang itu.

Kendala serupa juga dialami Putra, 18. Dia juga lulus di IPB dengan jurusan Matematika. Baginya, menuju IPB adalah cita-cita yang mesti harus digapai. “Untuk biaya kuliah itu susah. Saya pilih IPB karena banyak peluang beasiswa nantinya di sana. Tentunya itu bisa saya dapat prestasi. Alhmadulillah, saya jebol,” kata putra pertama sopir taksi itu.

Pengakuan serupa juga diungkapkan Shinta Sania, 18, siswa MAN 2 Padang yang lulus di jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Prestasi yang ditorehkan ketiga remaja itu memberikan rasa bangga bagi keluarga besar MAN 2 Padang. Wakil Kepala MAN 2 Padang Yusmal Yani menuturkan, selama ini pihaknya memberikan keringanan bagi siswa berprestasi. Di antaranya tidak dibebankan biaya yang disepakati antara sekolah dan orang tua murid.

“Intinya MAN 2 Padang berupaya memberikan kesempatan kepada anak-anak kurang mampu tetap lanjut sekolah dengan catatan berprestasi,” sebutnya.

Terkait tiga siswanya yang baru lulus di IPB dan ITB, sebut Yusmal Yani, mereka

adalah siswa berprestasi selama bersekolah. Hanya saja keterbatasan ekonomi sempat membuat mereka kebingungan untuk bisa berangkat ke kampus yang dituju. Beruntung ketiga siswa itu mendapat bantuan urunan dari sekolah dan siswa. Selain itu juga ada bantuan dari Baznas Kota Padang. Ternyata bantuan itu masih belum mencukupi kebutuhan para siswa.

“Ternyata alumni MAN 2 Padang memiliki program khusus untuk adik-adiknya

dengan memberikan bantuan beasiswa, sehingga tiga siswa kami yang lulus di IPB dan ITB bisa berangkat,” terang pria yang biasa di panggil Pak Yeye itu.

Atas partisipasi alumni MAN 2 Padang angkatan 2003 ini, Yusmal Yani mengaku bangga. Sebab mereka turut memberikan perhatian besar pada generasi selanjutnya.

Menurutnya, bantuan dari alumni itu selain memotivasi juga menjadi pemacu

semangat bagi siswa lain untuk berprestasi. “Semoga bermanfaat bagi siswa yang menerima dan menjadi amal bagi alumni yang telah ikhlas membantu,” kata Yusmal Yani.

 

Baca Juga :