Potensi Ikan Tuna di Indonesia

Potensi Ikan Tuna di Indonesia – Salah satu komoditas ikan yg dihasilkan oleh perairan laut Indonesia yg mempunyai nilai ekonomi relatif tinggi yaitu Tuna. Ikan Tuna adalah galat satu unggulan produk perikanan berdasarkan Indonesia yang dijual ke pasar ekspor, sebagai akibatnya Tuna dapat dijadikan salah satu andalan ekspor non migas berdasarkan sektor perikanan. Bentuk tuna yg diekspor tadi berupa tuna beku atau pre-cooked loin.

Riset ikan tuna merupakan program terobosan yg mempunyai nilai krusial, lantaran ikan tuna bagi Indonesia adalah komoditas ekspor terbesar kedua selesainya udang. Dari nilai ekspor 2 miliar dollar AS per tahun, 20 % disumbang dari ikan tuna, selain itu, nilai ekspor ikan tuna tiap tahun umumnya selalu semakin tinggi, sehingga dapat memberikan donasi akbar terhadap devisa negara. Dalam kurun waktu 1999-2004, volume ekspor tuna meningkat rata-homogen 2,72 per tahun yakni dari 87.581 ton menjadi 94.221 ton. Sedangkan berdasarkan sisi nilai, terjadi kenaikan rata-homogen lima,56 % per tahun, dari US $ 189,397 juta pada tahun 1999 menjadi US $ 243,937 juta pada tahun 2004. Negara yg menduduki peringkat atas menjadi tujuan ekspor tuna Indonesia adalah Jepang (36,84%), disusul Amerika Serikat (20,45%) dan Uni Eropa (12,69%). Data ini mendeskripsikan bahwa tiga negara tersebut sangat berpengaruh terhadap kinerja ekspor tuna Indonesia & hingga saat ini peringkat negara tujuan ekspor belum bergeser walaupun pasar ekspor output laut Indonesia sudah berkembang hingga ke negara daerah Timur Tengah, Korea & Uni Soviet.

Jenis-Jenis Tuna di Laut Indonesia
Albacore (Thunnus alalunga), hidup pada bahari tanggal & berada pada bawah thermocline (lapisan air yang perbedaan suhunya mencolok). Panjangnya dapat mencapai 137 cm, namun yang generik antara 40-100 centimeter. Pemakan segala macam organisme, khususnya ikan, cumi-cumi dan udang masih ada di perairan barat Sumatera, selatan Jawa & selatan Sumbawa.
Madidihang atau yellowfin tuna (Thunnus albacore), hidup pada bahari lepas & dekat dengan permukaan. Panjang maksimum mencapai 195 centimeter, tetapi umumnya antara 50-150 cm. Pemakan ikan, cumi-cumi & udang. Banyak masih ada di perairan selatan Makasar, utara Sulawesi, Laut Banda dan utara Irian Jaya.
Tongkol atau little tuna (Euthynus affins), hayati di perairan dekat pantai yang mempunyai dasar karang. Panjang maksimum 100 cm, tetapi kebanyakan 50- 60 cm. Jenis makanannya merupakan decapoda, cephalopoda & ikan-ikan mini . Penyebaran hampir sama menggunakan cakalang.
Tuna mata akbar (big eye/Thunnus obesus), hayati pada perairan bahari lepas mulai berdasarkan permukaan sampai kedalaman 250 centimeter. Panjang sanggup mencapai 236 cm, tetapi yg umum antara 60-180 centimeter. Pemakan cumi-cumi & udang. Banyak masih ada di perairan barat Sumatera, laut Banda, utara Sulawesi dan utara Irian Jaya.
Tuna sirip biru selatan atau southern bluefin tuna (Thunnus maccoyii), hayati di perairan lepas pantai pada bawah thermocline. Panjang maksimum 222 centimeter, namun kebanyakan antara 40-180 cm. Pemakan hewan berkulit lunak seperti cumi-cumi, udang & aneka macam jenis ikan mackarel terdapat di perairan Samudera Hindia.
Bluefin, bisa mencapai panjang dua,lima m menggunakan berat 300-350 kg. Berkembang biak di daerah terbatas yaitu antara selatan Jawa dan Australia barat bahari.
Skipjack atau cakalang, termasuk jenis ikan tuna pada famili Scombridae. Cakalang lebih poly hayati pada lapisan permukaan dengan suhu 16-30 °C & panjangnya dapat mencapai 1 m menggunakan berat 25 kg. Penangkapan cakalang pada Indonesia banyak dilakukan pada perairan kurang lebih Belitung, Ternate, Ambon, Sorong & Waigeo.
Ikan tuna adalah jenis ikan dengan kandungan protein yg tinggi & lemak yang rendah dan mengandung protein antara 22,6-26,2 g/100 g daging, lemak antara 0,2-dua,7 g/100 g daging. Ikan tuna mengandung mineral (kalsium, fosfor, besi, sodium), vitamin A (retinol), dan vitamin B (thiamin, riboflavin, & niasin).

Tingginya permintaan ikan tuna di pasar global dan sifatnya menjadi jenis ikan bermigrasi jauh menyebabkan pengelolaannya dilakukan beserta secara regional (RFMO). Peraturan internasional Tata Kelola penangkapan tuna di EEZ dan laut lepas disepakati sang negara anggota didalam sidang tahunan RFMO. Hal tersebut dilakukan lantaran diketahui stok ikan tuna berdasarkan tahun ke tahun mengalami penurunan yang sangat drastis. Menurut data FAO dalam 2016, sebesar delapan jenis ikan tuna mengalami overexploited, yaitu terdiri atas tuna sirip biru Pasifik, ikan tuna sirip biru atlantik, tuna sirip biru selatan, tuna big eye, tuna sirip kuning, tuna albacore, tuna ekor panjang dan tuna ekor hitam.

Melihat ini, sejumlah negara mulai melakukan teknik budidaya pada ikan tuna. Adapun negara-negara yang mulai melakukan teknik pembudidayaan dalam ikan tuna yaitu Australia, Jepang, Meksiko, Spanyol, Maroko, Portugis, Kroasia, Turki, dan Indonesia. Dan tercatat, meskipun di Indonesia budidaya tuna masih pada termin pengembangan, dalam 2015 Indonesia sebagai negara pertama yang melakukan budidaya ikan tuna dari termin pemijahan buat jenis tuna sirip kuning.

Sumber : faunadanflora.com